Sunday, 1 July 2007

moving forward

tomorrow i will be moving forward to bromo and leaving Jogja behind.
Another sad moment for me to leave Jogja. I know I will be back though,
I dont know when. But I will always come back to Jogja. I'm addicted to it.
The plan is to take a bus from Giwangan Terminal to Probolinggo by night
and then hopped to another small bus to Ngadisari and get a hostel there.
Resting for a day, and then woke up at early in the morning to watch the sunrise of Bromo. Or on top of Bromo. I'm so excited!


oh about the pictures: i tried to upload them through the internet cafe, but the connexion was so slow and i never had it finished. *blaaah* Maybe if I'm lucky enough to find one and upload my pretty pictures then i will post it here.
I'm sorry..

and another moving forward thing that i'm gonna do is that i will try to enjoy the trip, even though keluhan2 capek dan kepanasan dari teman gw itu akan selalu mengganggu. Tentunya gw sangat terganggu dengan segala keluh kesahnya dia yang tak kunjung henti. Dalam kelas Adaptasi Manusia beberapa semester lalu, seinget gw nggak diajarin kalo proses aklimatisasi ataw aklimasi itu akan mencapai berminggu2 pada manusia. Nah, apakah kasus yang sedang gw alami ini adalah sebuah anomali,
ataukah juga mungkin berlaku pada proses aklimatisasi dan proses aklimasi pada manusia dalam usahanya beradaptasi dengan lingkungan sekitar --
entahlah...

bromo mungkin akan jadi salah satu tempat ujian bagi gw dan temen gw. Seberapa tahannya gw akan keluhannya dia, dan seberapa tahannya dia akan
ketidakmudahan hidup di Indonesia. Hari ini gw membaca sesuatu yang menarik di The Jakarta Post di "by the way" feature, ada seorang wartawan Jerman yang menulis ttg kesan2nya selama bekerja di Jakarta. Hm.... baca deh, pretty much you will get what I meant on my previous writings. click on the link.

Just recently, I saw a scavenger wading through the thick brown sludge in a Jakarta canal. His life is hard and he struggles to make a living from what he's doing. He does it anyway; no matter what job a person has in this country, they always seem to be able to spare a smile for a stranger.

In my native Germany, jobless people wouldn't have to wade through dirt to earn their bread; they could pick asparagus, but refuse to do so. They somehow think it's undignified to do it and thus lose a chance to earn a dignified living for themselves.


hmm... gmana? perlu membaca tulisan ini sebelum menyadari bahwa perbedaan di kedua negara jelas2 tidak dapat dihindari. Kami memang negara ketiga di mata Anda. Tapi, setidaknya beberapa di antara kami masih mempunyai dignity untuk dipertahankan.
Huuuh.... kesannya memang gw marah besar akan segala keluh kesah mereka.

Terkadang, gw pikir: apakah gw dan teman2 gw sdh terlalu terbiasa dengan segala ketidak istimewaan itu atau memang kami cukup pintar untuk mengaklimatisasi diri secepat mungkin dengan lingkungan sekitar. Masih teringat dengan segar gmana gw dengan cepat dan mudah beraklimatisasi saat mengunjungi negaranya. Nyaris tanpa keluhan soal makanan ataupun yang lain. Pada dasarnya sih, gw tidak menolak luxury selama harga masih bisa afforadble ama kantong gw, dan tidak mendapakan luxury pun bukan menjadi suatu masalah bagi gw.

Yah... marilah terus membaca blog gw dalam rangka mengetahui cerita2 selanjutnya [baca: keluhan gw akan orang2 yang suka mengeluh] Yang pasti, gw tetep MOVING FORWARD