Tuesday, 22 May 2012

listen





 
Orang-orang tuh bebas banget untuk nyakitin orang laen, tanpa merasa harus minta maaf setelahnya. Jarang banget ada orang yang beneran bisa mendengar pake hati dan bukan pake telinga. Apalagi orang yang mau mengerti bahwa orang lain itu pengen didengar....

Yang banyak kejadiannya malah, semua orang pengen bicara tanpa ada yang mau mendengar. People around me is a good example. So many people speaking, without anyone listening. Here's the difference between listening and hearing. Dalam Bahasa Indonesia, keduanya memang berarti mendengar. Tapi mana yang pake hati, mana yang pake telinga. Intinya di situ. Orang-orang zaman sekarang terlalu sibuk mendengarkan kata hatinya masing-masing, atau musik alay yang ngga bermutu. Bahkan kadang yang satu lebih menang dari yang lainnya. Dalam pertemanan, sudah berapa banyakkah waktu yang elo habiskan untuk mau mendengarkan teman-teman lu sendiri? Entah itu keluh kesah, cerita gembira, atau sedih, atau sekedar opini mereka.

Berkali-kali gue menerima judgments dari orang-orang yang MERASA sudah mendengarkan,  meresapi, dan memahami apa yang dikatakan orang lain, yang sebenernya hanyalah sebuah persepsi pribadi yang penuh dengan asumsi-asumsi, tanpa ada keingintahuan akan empati. Orang bisa sekehendaknya bilang sesuatu itu ngga baik buat gue, hanya karena hal itu terlihat jelek, tanpa melihat manfaat dan kebutuhan gue akan hal itu. Dan tentunya mereka maksa bahwa opini mereka adalah yang paling benar untuk gue. 

Voluntarily, I am going to say that people around me is always ready to tell me what I think is wrong, that what I'm dreaming about is not feasible to be true, undoable. My life is not a gimmick, you know. What right in the world that tells you can dismiss my opinions, needs, wants, and dreams as you like? Have you also forgotten that I am also a human being? What is the point of having wonderful singing voice, when no one is actually listening when I'm talking? 

Ketika gue bicara tentang rasa, dikatakan nggak pantes, sebab nggak gerwani banget. What the hell? Apa gerwani mati rasa? Ketika gue diam tanpa kata, dikatakan nggak gue banget. Apa sih yang elo tau itu gue banget? Kenapa gue ngga bisa/boleh melakukan sesuatu yang nggak gue banget atau nggak gerwani banget???

kenapa kalo gosip elo smuwa mau denger, tapi kalo suara hati temen loe sendiri, elo malah menolak ndengerin?