Saturday, 14 July 2012

hobi: jual diri

Berhubung pengetahuan saya yang minim mengenai arkeologi maritim di Indonesia, saya akan berusaha menempatkan istilah dengan tepat. Mohon maaf bagi rekan-rekan yang lebih piawai dalam hal arkeologi maritim, apabila menemukan peristilahan yang kurang tepat letaknya.

Beberapa waktu yang lalu, 'kalangan' arkeologi Indonesia cukup di'heboh'kan dengan berita-berita yang berkaitan dengan penjualan cagar budaya dari kapal karam. Pembahasan di grup nampak tiada henti dengan argumen-argumen yang menguatkan sudut pandang masing-masing yang berargumen. Seperti biasa, sebagai peminat arkeologi Indonesia, saya hanya bisa mengamati dan mencoba mencerna apa yang terjadi dan sedang dibahas.

Sepengetahuan saya, sebetulnya peristiwa jual-menjual dan beli-membeli ini sudah lama berlangsung. Lalu saya berpikir, kenapa baru sekarang heboh, ataukah memang dahulu kala juga sempat heboh, dan isu menghilang begitu saja? Toh, artefak-artefak tersebut sudah terjual...

Beberapa pengargumen berkelit bahwa hal ini tidak sepantasnya terjadi, sebab nampak seperti kita menjual jati diri dan sejarah bangsa blablabla. Pengargumen lain berkata bahwa lazim-lazim saja dijual, dan pengargumen lain melontarkan kata-kata yang bagi saya cukup menggambarkan bahwa yang bersangkutan tidak begitu peduli apa nasib artefak-artefak tersebut.

Saya tidak akan menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan prosedur dan lain sebagainya, karena memang bukan jatah saya untuk membicarakan hal tersebut. Pasti banyak rekan yang lebih berkebisaan untuk membahasnya lebih detil.

Sebenarnya bisa saja saya menyatakan lari ke mana sense of belonging kita terhadap artefak-artefak yang ditemukan di Indonesia dan yang mungkin saja membantu membentuk sejarah bangsa?? Namun, hal-hal lain yang menjadi perhatian saya adalah ketika artefak-artefak tersebut tidak dijual dan tidak dibeli, apakah lantas nasibnya akan lebih baik ketimbang sebaliknya? Saya merasa pertimbangan mengenai 'rumah yang lebih baik' bagi para artefak tersebut jauh lebih masuk akal untuk melestarikan nilai-nilai yang tersembunyi dari artefak tersebut, lebih daripada sekedar harga jual dan harga beli - karena uang akan habis dibelanjakan.

Apakah saya menyatakan bahwa 'rumah' si pembeli jauh lebih baik ketimbang rumah sendiri? Satu yang harus berani saya akui bahwa saya belum melihat Indonesia mempunyai regulasi yang jelas, benar, dan tepat untuk melestarikan sebegitu banyak artefak di rumah sendiri. Tetapi saya tidak melihat kekurangan ini sebagai satu borok atau sindiran atau ejekan. Bagaimana jika kekurangan ini dilihat sebagai tantangan untuk mendirikan, membentuk, dan membangun suatu cara yang jelas, benar, dan tepat untuk melestarikan jenis cagar budaya seperti ini, sehingga di masa yang akan datang, argumen untuk tidak menjual akan sedikit lebih kuat.

Tapi (lagi), nampaknya masalah tidak berhenti di sana. Berita demi berita muncul tentang adanya kecurangan dalam pembagian 'hasil', dalam hal ini tidak berbentuk uang, memang, tetapi berbentuk pemilihan artefak. Ada pihak-pihak yang melihat bahwa artefak-artefak yang di'pilih'kan sebagai jatah negara adalah yang berkualitas nomor dua (tiga, empat, dan atau seterusnya; yang pasti bukan yang berkualitas nomor satu).

Mari, mari, mari kita pikir-pikir.
Dalam kegiatan macam ini tentunya melibatkan banyak pihak dengan banyak kepentingan. Sudah bukan hal yang mengherankan jika saya mendengar bahwa ada faktor-faktor eks (baca: BUKAN BEKAS) yang menentukan hasil akhirnya.

Referensi:
Indonesia’s Shipwrecks Mean Riches and Headaches. Jakarta Globe, Mar 31st, 2012.
Indonesian Sunken Treasure Up For Sale Again. Jakarta Globe, Mar 5th, 2012.
KKP Belum Lihat Pelanggaran Penjualan Harta Karun di Singapura. DetikNews, Apr, 3rd, 2012.
Harta Karun dari Perairan Cirebon Bagian Indonesia Masih Utuh. DetikNews, Apr 3rd, 2012.
Indikasi Kecurangan dalam Lelang Artefak dari Perairan Cirebon di Singapura. Majalah Arkeologi Indonesia, Apr 3rd, 2012.